Saat pertama kali mendengar kabar perilisan Tendangan Dari Langit, saya sempat memandang film ini sebelah mata. Kehadiran Irfan Bachdim dan Kim Kurniawan di jajaran pemain awalnya terasa seperti sekadar memanfaatkan popularitas dua pemain naturalisasi yang tengah naik daun. Namun, pandangan itu mulai berubah ketika mengetahui bahwa film ini disutradarai oleh Hanung Bramantyo, sosok di balik Sang Pencerah dan ?, dua film yang sangat saya apresiasi. Rasa penasaran pun muncul: apakah film ini mampu mengulang kesuksesan Garuda di Dadaku?
Baca Juga
Review Jonah Hex: Adaptasi Komik DC yang Gagal
Oleh: Indocair
Kisah Mimpi Seorang Bocah Sepak Bola
Cerita berfokus pada Wahyu (Yosie Kristanto), pemain sepak bola muda paling berbakat di Desa Langitan, sebuah desa di lereng Gunung Bromo. Wahyu bermain dalam tim lokal yang berlaga di turnamen sepak bola tingkat kabupaten di bawah bimbingan pamannya, Hasan (Agus Kuncoro). Berkat bakat Wahyu, tim tersebut hampir selalu keluar sebagai pemenang.
Konflik utama muncul dari sosok ayah Wahyu (Sujiwo Tejo) yang menentang keras impian anaknya. Baginya, hidup dari sepak bola bukanlah sesuatu yang membanggakan. Meski demikian, Wahyu tetap bersikeras mengejar mimpinya, termasuk ambisi untuk bisa bermain di Persema bersama Irfan Bachdim dan Kim Kurniawan.Permainan Dan Terbaik Kini Telah Tiba Dan Tepercaya Membuat Semua Orang Menjadi Jutawan hanya Di Indocair
Cerita Sederhana dengan Eksekusi Matang
Dari premisnya saja, sudah terlihat bahwa Tendangan Dari Langit mengusung pola cerita “from zero to hero” yang cukup klasik. Tema bocah yang mengejar mimpi di dunia sepak bola meski mendapat tentangan bukanlah hal baru, dan memang memiliki kemiripan dengan Garuda di Dadaku.
Namun, meski alurnya terbilang standar hingga ke bagian akhir, film ini dikemas dengan baik sehingga tidak terasa membosankan. Bahkan, bisa dibilang Tendangan Dari Langit merupakan versi yang lebih dewasa dari Garuda di Dadaku, baik dari segi konflik, dialog, maupun pendekatan emosionalnya.
Salah satu nilai jual utama film ini adalah adegan pertandingan sepak bola yang terasa realistis dan digarap dengan serius. Pengemasannya terlihat rapi dan meyakinkan, sesuatu yang jarang ditemui, bahkan pada film sepak bola dari luar negeri.
Akting dan Karakter yang Menonjol
Film ini juga menyelipkan kisah percintaan antara Wahyu dan Indah (Maudy Ayunda) yang disajikan secara manis dan tidak berlebihan. Yosie Kristanto tampil solid sebagai Wahyu, baik saat berada di lapangan maupun dalam adegan dramatis.
Namun, penampilan paling mencuri perhatian jelas datang dari Sujiwo Tejo. Aktingnya begitu kuat hingga membuat Agus Kuncoro, yang sebenarnya tampil baik, terasa tenggelam saat harus berbagi layar dengannya. Sementara itu, Irfan Bachdim dan Kim Kurniawan tampil cukup sering di paruh akhir film dan tidak terasa sekadar sebagai cameo.
Kesimpulan
Secara keseluruhan, Tendangan Dari Langit adalah film sepak bola yang menghibur meskipun tidak menawarkan cerita yang benar-benar baru. Jika Garuda di Dadaku tidak pernah ada, film ini mungkin akan terasa jauh lebih fenomenal sebagai pemantik semangat bagi mereka yang mengejar mimpi di dunia sepak bola.
Meski demikian, film ini tetap terasa segar, hangat, dan berhasil menjalankan fungsinya sebagai hiburan yang solid. Sebuah tontonan yang layak dinikmati, terutama bagi pecinta film bertema olahraga dan drama inspiratif.
