Jonah Hex sebenarnya memiliki banyak modal untuk menjadi film yang setidaknya layak, bahkan berpotensi sukses. Film ini merupakan adaptasi komik terbitan DC Comics, yang meskipun bukan termasuk jajaran komik kelas A, tetap memiliki basis penggemar tersendiri. Selain itu, jajaran pemainnya terlihat menjanjikan. Josh Brolin dipercaya memerankan karakter utama Jonah Hex, didukung aktor veteran John Malkovich, serta nama-nama besar seperti Michael Fassbender, Michael Shannon, dan Megan Fox sebagai daya tarik tambahan.
Namun kenyataan berkata lain. Dengan bujet sekitar 47 juta dolar AS, Jonah Hex hanya mampu meraup pemasukan kurang lebih 10 juta dolar AS di box office. Film ini pun menuai kritik negatif dari berbagai pihak. Pertanyaannya, apakah Jonah Hex memang seburuk itu?
Baca Juga
Review Astro Boy: Visual 3D Menarik, Cerita Dangkal
Oleh: Rajabotak
Sinopsis Singkat Jonah Hex
Jonah Hex (Josh Brolin) merupakan mantan anak buah Quentin Turnbull (John Malkovich) pada masa Perang Saudara Amerika. Konflik muncul ketika Hex berbeda pandangan dengan Turnbull, yang berujung pada pembelotan dan kematian anak Turnbull—yang juga merupakan sahabat Hex sendiri.
Tak terima dengan pengkhianatan tersebut, Turnbull membalas dendam dengan menyerbu rumah Jonah Hex. Ia memaksa Hex menyaksikan istri dan anaknya tewas terbakar hidup-hidup, sekaligus meninggalkan bekas luka bakar permanen di wajahnya. Jonah sendiri nyaris tewas, sebelum akhirnya diselamatkan oleh suku Indian.Cobain Permainan Terseru Di Rajabotak
Pengalaman mendekati kematian itu membuat Jonah Hex memiliki kemampuan supranatural, yakni dapat berkomunikasi dengan orang mati. Dengan kemampuan tersebut, Hex memulai perjalanan balas dendam untuk memburu Quentin Turnbull. Dalam perjalanannya, ia ditemani Lilah (Megan Fox), seorang pelacur yang kemudian menjadi love interest-nya.
Cerita Lemah dan Penuh Plot Hole
Masalah terbesar Jonah Hex terletak pada ceritanya. Plot hole bertebaran hampir di seluruh film. Salah satu yang paling terasa adalah bagian pembuka yang menceritakan masa lalu Jonah Hex menggunakan animasi bergaya komik. Alih-alih memperjelas latar belakang karakter, bagian ini justru terasa membingungkan dan terburu-buru.
Motivasi karakter pun kerap terasa dipaksakan. Sulit untuk menerima bagaimana seorang pria yang diliputi trauma mendalam akibat kematian keluarganya justru menjalin hubungan romantis di tengah misi balas dendamnya. Hal ini membuat emosi cerita terasa tidak konsisten.
Selain itu, beberapa keputusan penyutradaraan juga patut dipertanyakan. Adegan bayangan pertarungan antara Jonah Hex dan Quentin Turnbull yang disisipkan di tengah adegan dunia nyata terasa aneh. Apakah ingin tampil artistik atau simbolik, hasil akhirnya justru terkesan absurd dengan eksekusi yang buruk.
Akting yang Kurang Termanfaatkan
Dari sisi akting, Josh Brolin menjadi satu-satunya penyelamat utama film ini. Ia tampil cukup meyakinkan dan karismatik sebagai Jonah Hex. Sayangnya, karakter pendukung tidak mendapatkan pengembangan yang memadai.
John Malkovich sebenarnya tidak tampil buruk, namun sosok antagonisnya kurang meninggalkan kesan sebagai penjahat yang benar-benar mengancam. Michael Fassbender tampil cukup menarik sebagai karakter penjahat semi-psikopat, meski porsinya terbatas. Sementara Megan Fox kembali hadir sebagai pemanis visual, dengan karakter Lilah yang terasa dangkal dan tiba-tiba berubah menjadi jagoan di akhir film tanpa penjelasan yang masuk akal.
Kesimpulan
Secara keseluruhan, Jonah Hex adalah contoh adaptasi komik DC yang gagal total. Cerita lemah, penuh plot hole, dan eksekusi yang buruk membuat film ini sulit untuk dinikmati, bahkan oleh penggemar genre action western sekalipun. Jika bukan karena jajaran cast yang cukup solid, Jonah Hex layak masuk daftar kuat kandidat film terburuk tahun ini dan pantas menerima Razzie Award.

