Review Astro Boy: Visual 3D Menarik, Cerita Dangkal

Review Astro Boy: Visual 3D Menarik, Cerita Dangkal

Siapa yang tidak mengenal Astro Boy? Karya legendaris ciptaan God of Manga, Osamu Tezuka, ini telah menjadi ikon budaya pop Jepang sekaligus dikenal luas di seluruh dunia. Meski ceritanya kerap terasa ringan, manga Astro Boy selalu menyelipkan pesan moral yang kuat tentang kemanusiaan, empati, dan teknologi. Maka ketika adaptasi layar lebarnya diumumkan dalam format animasi 3D, wajar jika muncul rasa antusias sekaligus kekhawatiran—terlebih mengingat rekam jejak Hollywood yang tak selalu berhasil mengadaptasi manga ternama.

Baca Juga

Review The Black Phone: Horor Sunyi dengan Payoff Kuat

Oleh: Pamanempire

Plot yang Familiar, Namun Terburu-buru

Secara garis besar, film Astro Boy masih mengikuti premis klasiknya. Toby, seorang bocah jenius sekaligus anak dari ilmuwan brilian Dr. Tenma, tewas akibat serangan robot yang memberontak. Diliputi duka mendalam, Tenma menciptakan sebuah robot cyborg yang sangat mirip dengan Toby, lengkap dengan kecerdasan dan ingatan buatan.

Namun seiring waktu, Tenma menyadari bahwa robot tersebut tak akan pernah benar-benar menggantikan anaknya. Astro pun “dibuang” ke wilayah bawah kota Metro City, sebuah area terlupakan yang hidup di bawah bayang-bayang kemajuan. Di sanalah Astro mulai mengenal dunia manusia, berteman, dan menemukan jati dirinya. Sementara itu, Presiden Metro City mengincar teknologi Blue Core, sumber energi canggih yang menjadi kekuatan utama Astro.Permainan Terbaru Kini Hadir Dengan Tampilan Kece Yang

Cerita Dangkal dan Kurang Pengembangan

Sayangnya, kekhawatiran terbesar justru terbukti. Cerita film ini terasa dangkal dan disajikan terlalu terburu-buru. Perkenalan Toby, tragedi kematiannya, hingga keputusan Dr. Tenma menciptakan robot kloning berlangsung cepat tanpa ruang emosional yang cukup untuk membangun kedalaman karakter.

Beberapa adegan juga terasa janggal secara logika cerita. Salah satunya ketika nasib Toby dan Presiden Metro City diperlakukan berbeda dalam situasi serupa, tanpa penjelasan memadai. Hal-hal semacam ini membuat alur terasa kurang solid dan berpotensi mengganggu penonton yang memperhatikan detail.

Visual 3D Jadi Nilai Jual Utama

Di luar kelemahan cerita, visual 3D menjadi aspek yang paling layak diapresiasi. Animasi pertarungan Astro melawan robot-robot musuh tampil dinamis dan menghibur, terutama saat mencapai klimaks melawan Robot Peacekeeper. Efek visual dan desain aksi terasa cukup memanjakan mata, menjadikannya tontonan yang tetap menyenangkan secara teknis.

Kesimpulan

Astro Boy versi layar lebar memang menawarkan visual 3D yang solid dan aksi yang seru, namun sayangnya gagal menggali kedalaman cerita serta pesan moral yang menjadi kekuatan utama versi manganya. Film ini mungkin masih bisa dinikmati sebagai hiburan keluarga, tetapi bagi penggemar lama Astro Boy, adaptasi ini terasa melewatkan potensi besar yang seharusnya bisa digarap lebih matang.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *