Prey: Prekuel Predator yang Menemukan Roh Aslinya
Setelah 35 tahun, akhirnya waralaba Predator memiliki installment
yang mampu menjaga substansi film orisinalnya
tanpa terjebak pengulangan.
Predators (2010) memang solid,
namun lebih terasa sebagai reka ulang film pertama
dengan protagonis yang kalah karismatik.
Sementara itu, Predator 2 (1990)
dan The Predator (2018)
kehilangan nyawa akibat terlalu memaksakan perbedaan.
Dalam konteks tersebut, Prey hadir sebagai angin segar.
Film ini juga mengakhiri rentetan judul
yang miskin kreativitas.
Untungnya, kita tak perlu berhadapan
dengan nama seperti “Prey-Dator”.
Baca Juga
The Northman: Epik Balas Dendam Viking yang Kelam
Oleh: Indocair
Kembali ke Awal: Predator di Tahun 1719
Digarap oleh Dan Trachtenberg
(10 Cloverfield Lane),
Prey berfungsi sebagai prekuel.
Penonton diajak mundur ke tahun 1719,
saat Predator pertama kali menginjakkan kaki di Bumi.
Pilihan latar waktu ini langsung terasa menyegarkan.
Pertanyaannya sederhana namun menarik:
bagaimana kapak dan panah
dapat mengalahkan mesin pembunuh
berteknologi tinggi?
Bahkan bagi veteran Perang Vietnam
yang hidup ratusan tahun setelahnya,
teknologi Predator masih tampak canggih.
Survival, Bukan Adu Otot
Patut diingat, kemenangan Dutch
(Arnold Schwarzenegger)
di film pertama bukan ditentukan
oleh kekuatan fisik semata.
Ia menang karena memandang konfrontasi
sebagai upaya bertahan hidup,
bukan pertarungan langsung.
Pendekatan serupa menjadi keunggulan
suku Comanche di Prey.
Strategi dan kecerdikan
lebih penting dibanding adu senjata.
Dua aspek inilah yang kemudian
menjadi fondasi cerita.
Naru dan Perjuangan Membuktikan Diri
Naru (Amber Midthunder)
ingin diakui sebagai pemburu andal
seperti kakaknya, Taabe (Dakota Beavers).
Namun, sejak kecil
ia justru dilatih sebagai penyembuh.
Akibatnya, banyak yang meremehkannya.
Meski demikian, Naru merasa siap
menjalani kuhtaamia,
ritual pembuktian bagi pemburu Comanche.
Sebuah “burung petir” yang ia lihat
dianggap sebagai pertanda.
Tanpa ia sadari,
yang melintas di langit
bukanlah burung,
melainkan kapal luar angkasa
yang membawa Predator ke Bumi.
Build-up Cerdas dan Intensitas Bertahap
Menariknya, film ini membutuhkan
sekitar 45 menit
sebelum memperlihatkan wujud Predator secara utuh.
Naskah buatan Patrick Aison
sangat cermat dalam membangun tensi.
Keputusan untuk menahan kemunculan Predator
terbukti efektif.
Padahal, penonton sudah sangat familiar
dengan sosok ikonik tersebut.
Namun, intensitas tetap terjaga
tanpa terasa berlarut-larut.
Dua Pemburu di Satu Medan
Secara bergantian,
penonton diajak mengamati aktivitas
suku Comanche dan Predator.
Predator memburu hewan-hewan buas
seperti ular, singa, dan beruang
untuk menegaskan posisinya
di puncak rantai makanan.
Sebaliknya, orang-orang Comanche
terbiasa memburu para pemburu.
Keterampilan mereka,
meski sederhana secara teknologi,
terbukti efektif.
Hal ini memberi alasan logis
mengapa mereka punya peluang
melawan Predator.
Berburu sebagai Jiwa Cerita
Prey tidak menjadikan berburu
sekadar alasan menghadirkan aksi.
Sebaliknya, perburuan adalah nyawa cerita.
Hal ini terlihat jelas
dalam ritual kuhtaamia,
di mana pemburu harus “berkomunikasi”
dengan mangsanya.
Bagi Comanche,
perburuan bersifat sakral.
Ia sejajar dengan kehidupan dan kematian.
Pendekatan ini memberi kedalaman tematik
yang jarang ditemui
dalam film Predator sebelumnya.
Tanpa Hitam-Putih Moralitas
Naskah Prey juga menghindari
pola moralitas hitam-putih.
Apakah Predator jahat
karena memburu manusia?
Jika demikian,
mengapa Comanche dianggap baik
saat mereka juga memburu hewan?
Pertanyaan ini semakin rumit
ketika kelompok penjelajah Prancis
diperlihatkan menguliti bison secara brutal.
Melalui kontras tersebut,
film ini menantang penonton
untuk menilai ulang konsep pemburu dan mangsa.
Aksi, Gore, dan Kekurangan Teknis
Saat aksi mulai mendominasi,
Dan Trachtenberg menjalankan tugasnya
dengan cukup baik.
Ia dibantu oleh tata kamera cekatan
garapan Jeff Cutter.
Sentuhan gore turut hadir
sebagai pemanis hiburan.
Namun, tidak semuanya sempurna.
Beberapa detail aksi
hilang di tengah transisi.
Akibatnya, penonton mungkin perlu
mengulang adegan tertentu
untuk memahami peristiwa penting,
termasuk serangan terakhir Naru.
Kesimpulan
Meski memiliki kelemahan,
Prey tetap berhasil
menghidupkan kembali roh Predator.
Aksi yang sarat strategi
dan elemen survival
menyeimbangkan otot dan otak.
Pendekatan tersebut
mendukung proses pendewasaan Naru,
yang dihidupkan dengan penampilan organik
oleh Amber Midthunder.
Pada akhirnya,
Prey membuktikan bahwa
waralaba ini masih bisa relevan
dengan kembali ke akar ceritanya.

