Morbius dan Kebingungan Sony Membangun Semesta Superhero
Di fase awal pengembangannya, baik Marvel Cinematic Universe (MCU) maupun DC Extended Universe (DCEU) sama-sama sempat terseok. Bahkan, proyek DC pernah berada di ambang kehentian. Namun, terlepas dari hasil yang naik-turun, Marvel Studios dan Warner Bros selalu memiliki visi yang jelas. MCU mengedepankan hiburan ringan berbasis shared universe, sementara DCEU perlahan menemukan identitas lewat eksplorasi genre yang lebih berani. Dua pendekatan berbeda ini akhirnya saling melengkapi lanskap film superhero modern.
Di tengah dominasi tersebut, Sony mencoba peruntungan lewat Sony’s Spider-Man Universe (SSU). Sayangnya, sejak awal, langkah Sony terasa kurang terarah.
Baca Juga
Doctor Strange 2: Horor Brutal ala Sam Raimi di MCU
Oleh: Pamanempire
Sony dan Ambisi yang Setengah Hati
Memang benar Warner Bros sempat terlihat “mengejar” kesuksesan Marvel secara bisnis. Namun secara estetika dan narasi, DC tetap mempertahankan jalur berbeda melalui strategi counterprogramming. Sony justru tampak bergerak dengan gagasan sederhana: memanfaatkan popularitas properti Marvel yang mereka miliki.
Hasilnya adalah pendekatan yang serba tanggung. Sony enggan tampil seceria MCU, namun juga menolak sepenuhnya nuansa lebih dewasa ala DCEU. Film seperti Venom (2018) menjadi contoh nyata—tidak sepenuhnya ringan, namun juga tidak cukup gelap dan berkarakter. Sekuelnya, Venom: Let There Be Carnage (2021), memang terasa lebih baik, tetapi lebih karena rendahnya standar film pertama. Kehadiran Morbius (2022) kemudian menegaskan bahwa SSU masih belum menemukan bentuknya.Permainan Seru Kini Hadir Dari Pamanempire Dengan Depo 10k Bisa Menjadi Jutawan
Premis Menarik yang Tak Berkembang
Morbius mengikuti kisah Dr. Michael Morbius (Jared Leto), ilmuwan jenius yang menderita penyakit darah langka. Bersama Dr. Martine Bancroft (Adria Arjona), ia melakukan eksperimen ilegal dengan menggabungkan DNA manusia dan kelelawar. Penelitian tersebut didanai oleh sahabatnya, Milo (Matt Smith), yang mengidap penyakit serupa. Eksperimen itu memang berhasil—namun dengan konsekuensi Morbius berubah menjadi vampir haus darah.
Secara konsep, karakter Morbius sebenarnya menjauh dari stereotip “ilmuwan gila”. Ia sadar eksperimennya tidak etis, namun tetap melakukannya demi menolong orang lain. Motivasinya bersifat personal dan manusiawi. Desain vampir Morbius pun cukup meyakinkan berkat perpaduan prostetik dan CGI, terutama saat wajahnya berubah ketika kehilangan kendali.
Protagonis Tanpa Daya Tarik
Masalah utama Morbius bukan terletak pada premis, melainkan pada eksekusinya. Sepanjang 104 menit, perjalanan sang protagonis terasa datar dan kurang menarik untuk diikuti—apalagi jika Sony berniat mengembangkannya ke sekuel atau crossover. Jared Leto tidak tampil buruk, tetapi karakter Morbius sendiri berada di wilayah abu-abu: tidak cukup karismatik, tidak menyenangkan, dan sulit membuat penonton peduli.
Ironisnya, justru Matt Smith sebagai Milo menjadi elemen paling menghibur. Gaya bermainnya yang over-the-top menghadirkan energi yang sangat dibutuhkan film ini. Ketika Milo turut bertransformasi, muncul potensi drama persahabatan tragis yang kuat. Namun lagi-lagi, naskah gagal menggali konflik tersebut secara emosional.

