Setan Alas: Horor Indie Meta yang Mengejek Pakem Lokal

Setan Alas: Horor Indie Meta yang Mengejek Pakem Lokal

Setan Alas! hadir sebagai angin segar di tengah stagnasi horor Indonesia yang kerap terjebak dalam formula seragam. Film garapan Yusron Fuadi ini bukan sekadar menawarkan teror, melainkan pengalaman sinematik yang secara sadar mengutak-atik, mengkritik, bahkan mengejek pakem horor lokal. Di balik keterbatasan sumber daya, film ini justru memancarkan kebebasan kreatif khas karya indie—sebuah teriakan lantang, “Ini indie bung!”.

Horor Meta yang Lahir dari Kejengahan

Tagline “Lupakan semua yang kau tahu tentang film horor” terasa sangat percaya diri, namun tidak berlebihan. Yusron Fuadi, yang sebelumnya dikenal lewat Tengkorak (2018), memang memiliki ketertarikan kuat terhadap genre horor. Sejak pembukaannya yang menampilkan aerial shot hutan diiringi lagu sendu, Setan Alas! sudah memberi isyarat akan pendekatan yang berbeda, bahkan tercium aroma penghormatan pada film kultus seperti Cannibal Holocaust (1980).

Baca Juga:

Petualangan Anak Penangkap Hantu, Skeptis tapi Timpang

Oleh:

Rajabotak

Sinopsis yang Sengaja Klise, Lalu Dihancurkan

Kisahnya mengikuti lima mahasiswa yang memutuskan berlibur ke sebuah vila terpencil di tengah hutan. Kekhawatiran tentang makhluk halus—sebuah trope klasik horor—akhirnya menjadi kenyataan. Namun, alih-alih berjalan lurus mengikuti klise, naskah yang ditulis Yusron bersama Anindita Suryarasmi (dengan kontribusi co-writer lain) justru menjadikan keklisean itu sebagai bahan permainan.Permainan Terbaik Hadir Dengan Depo 10k Dan Menjadi Jutawan Hanya Bermain Di Rajabotak

Jika sebelumnya Jatuh Cinta Seperti di Film-Film mengusung pendekatan meta terhadap industri film Indonesia secara umum, maka Setan Alas! mengerucutkan sasarannya secara spesifik pada genre horor. Film ini meluapkan kejengahan terhadap kemalasan penulisan horor lokal, bahkan tak ragu menyampaikannya secara terang-terangan lewat dialog-dialog sarkastik.

Bebas dari Formula, Penuh Kejutan

Elemen meta menjadi alat utama Setan Alas! untuk melepaskan diri dari belenggu formula. Alurnya bergerak liar, kerap berbelok ke arah tak terduga, dan efektif memancing rasa penasaran penonton. Kebebasan ini sekaligus menjadi cerminan semangat indie yang kental—keinginan untuk bersenang-senang tanpa tunduk pada ekspektasi pasar.

Namun, kebebasan tersebut juga membawa konsekuensi. Penampilan para pemain, meski penuh usaha, masih menyisakan keterbatasan. Gaya penuturan Yusron yang bertumpu pada dialog menuntut akting yang kuat, sementara sebagian cast belum sepenuhnya mampu mengimbangi kebutuhan tersebut. Ditambah lagi, penyuntingan di paruh pertama yang terasa kacau justru mengurangi efektivitas dinamika cerita.

Dunia yang Belum Sepenuhnya Solid

Masalah lain muncul pada aspek “rules” atau aturan dunia filmnya. Ada pertanyaan besar terkait penggerak di balik keputusan para karakter yang tidak diolah secara tuntas, sehingga pembangunan dunia Setan Alas! terasa kurang solid. Hal ini membuat beberapa konflik kehilangan bobot dramatik yang seharusnya bisa lebih kuat.

Semangat yang Tetap Layak Diapresiasi

Terlepas dari kekurangannya, intensi dan semangat Setan Alas! tetap mengesankan. Yusron tampak mulai menahan kecenderungan “asyik sendiri” yang sebelumnya membuat beberapa adegan terasa terlalu panjang. Seperti pada Tengkorak, film ini kembali menampilkan efek spesial yang memikat—baik CGI yang digunakan secara efektif maupun efek praktikal yang bahkan menghadirkan reinterpretasi salah satu momen ikonik dari Inception.

Kesimpulan

Setan Alas! mungkin tidak sempurna, namun keberaniannya mengejek pakem horor lokal, semangat indie yang membara, serta pendekatan meta yang jarang ditemui menjadikannya tontonan yang patut diapresiasi. Film ini membuktikan bahwa dengan keberanian bereksperimen dan kebebasan kreatif, horor Indonesia masih memiliki banyak kemungkinan untuk dieksplorasi.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *