Petualangan Anak Penangkap Hantu, Skeptis tapi Timpang

Petualangan Anak Penangkap Hantu, Skeptis tapi Timpang
Ketika industri perfilman Indonesia dipenuhi film horor untuk penonton dewasa,
Petualangan Anak Penangkap Hantu hadir sebagai alternatif yang cukup segar.
Film ini memilih bersikap skeptis terhadap hal-hal mistis dan mengusung pendekatan ala
Scooby-Doo. Di atas kertas, konsep tersebut terdengar menjanjikan. Namun dalam
praktiknya, eksekusi cerita belum sepenuhnya solid.

Horor Anak dengan Pendekatan Skeptis

Film ini diadaptasi dari novel Anak Penangkap Hantu karya Asma Nadia.
Pendekatannya sederhana namun menarik. Alih-alih menampilkan hantu sungguhan,
film ini justru membongkar setiap teror sebagai ulah manusia biasa.
Karena itu, nuansa horor yang dihadirkan terasa ringan dan ramah anak.

Baca Juga:

Bob Marley: One Love, Biopik Hangat yang Kurang Spesial

Oleh:

Pausempire

Tim APH dan Karakterisasi Awal

Anak Penangkap Hantu, atau APH, terdiri dari Raffi (Muzakki Ramdhan),
Chacha (Giselle Tambunan), dan Zidan (M. Adhiyat).
Mereka dibantu Bang Dul (Andy Boim) sebagai sopir sekaligus pendamping.
Layaknya Mystery Inc., ketiganya menerima jasa menangkap hantu palsu.

Pada awal film, karakterisasi disampaikan secara eksplisit.
Zidan digambarkan sebagai otak tim lewat foto-foto ilmuwan di kamarnya.
Sementara itu, Raffi ditampilkan sebagai anak pemberani melalui atribut olahraga ekstrem.
Pendekatan ini terasa menyuapi, tetapi masih bisa dimaklumi untuk film anak.

Masalah Penokohan yang Tidak Konsisten

Sayangnya, tidak semua karakter mendapatkan perlakuan yang sama.
Chacha, misalnya, hanya direpresentasikan lewat stereotip putri Disney.
Hingga akhir cerita, naskah tidak pernah benar-benar menentukan perannya secara jelas.

Raffi pun mengalami kontradiksi. Di satu sisi, ia digambarkan berani dan gemar tantangan.
Namun di sisi lain, ia justru menjadi bagian dari duo penakut bersama Bang Dul.
Pertentangan ini tidak pernah dijelaskan dengan baik, sehingga terasa membingungkan.

Konflik Desa dan Minimnya Proses Investigasi

Konflik utama muncul ketika APH diminta Gita (Adinda Thomas) menyelidiki teror di sebuah desa.
Konon, penunggu hutan murka hingga menyebabkan kekeringan dan hilangnya warga.
Wak Bomoh (Sujiwo Tejo) menjadi figur sentral dalam konflik tersebut.

Namun, jika film ini ingin meniru daya tarik Scooby-Doo,
satu elemen penting justru hilang. Proses pengumpulan petunjuk hampir tidak ada.
Akibatnya, rasa penasaran penonton tidak pernah benar-benar terbangun.

Naskah sebagai Titik Terlemah

Kelemahan terbesar film ini terletak pada naskahnya.
Konflik dengan Wak Bomoh berkembang secara tiba-tiba.
Reaksi warga desa yang mengusir APH pun terasa tidak proporsional
untuk berhadapan dengan anak-anak.

Sebaliknya, di beberapa bagian, cerita justru terasa terlalu naif.
Twist yang dihadirkan sarat kontradiksi dan meruntuhkan logika yang sebelumnya dibangun.
Hal ini membuat penyelesaian konflik terasa kurang memuaskan.

Akting dan Musik yang Menyelamatkan

Meski demikian, film ini masih memiliki beberapa kekuatan.
Muzakki Ramdhan kembali tampil meyakinkan dalam memainkan emosi.
Sujiwo Tejo juga sukses menghadirkan antagonis yang mudah dibenci.

Selain itu, musik gubahan Ricky Lionardi menjadi nilai tambah tersendiri.
Skor megahnya memberi kesan petualangan besar, meski sayangnya tidak sepenuhnya terwujud di layar.

Kesimpulan

Secara keseluruhan, Petualangan Anak Penangkap Hantu menawarkan ide menarik
sebagai horor anak yang skeptis terhadap mistis.
Namun, kelemahan naskah dan penokohan membuat potensinya tidak tergarap maksimal.
Film ini tetap layak ditonton sebagai hiburan keluarga, meski sulit disebut istimewa.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *