Perempuan Bergaun Merah: Brutal tapi Kehilangan Daya

Perempuan Bergaun Merah: Brutal tapi Kehilangan Daya

Siapa pun yang mengedit trailer Perempuan Bergaun Merah layak mendapat pujian khusus. Dari materi yang tersedia, ia mampu merangkai janji tontonan horor brutal nan bertenaga. Bahkan beberapa money shot paling mengesankan justru tidak muncul di versi final filmnya. Ironisnya, energi yang terasa kuat di trailer itu kerap menguap ketika film mulai berjalan.

Melihat nama Timo Tjahjanto duduk di kursi produser, wajar bila ekspektasi penonton mengarah pada horor berdarah tanpa kompromi. Dalam hal kebrutalan, Perempuan Bergaun Merah memang tidak ingkar janji. Film ini mendorong batas rating usia 13+ hingga titik maksimal. Namun sebagaimana debut penyutradaraan solo William Chandra lewat Sekte tiga tahun lalu, persoalan utama kembali terletak pada pengolahan intensitas.

Baca Juga:

Godzilla x Kong: The New Empire, Pesta Monster Bebas

Oleh:

Empire88

Misteri yang Tak Pernah Bergerak

Cerita dimulai dengan menghilangnya Kara (Stella Cornelia) setelah sebuah malam penuh alkohol. Teman-temannya hadir, termasuk Dinda (Tatjana Saphira), sahabat terdekat Kara, tetapi tak seorang pun mengetahui keberadaannya. Dinda pun merasa bertanggung jawab dan mulai melakukan pencarian bersama Putra (Refal Hady), pacar Kara.

Di saat bersamaan, satu per satu orang yang terlibat dalam malam misterius tersebut tewas secara brutal di tangan sosok hantu perempuan bergaun merah. Premis ini seharusnya menjadi fondasi misteri yang menggugah rasa ingin tahu. Sayangnya, investigasi yang dijalani protagonis justru berjalan di tempat.

Minimnya progres membuat penonton sulit terlibat secara emosional. Misteri di balik hilangnya Kara tidak pernah benar-benar mengundang pertanyaan. Akibatnya, ketika twist ganda hadir di paruh akhir, dampaknya terasa hampa. Tanpa rasa ingin tahu, tanpa urgensi, penonton pun kehilangan alasan untuk peduli.Permainan Terbaru Kini Telah Hadir Dengan System Canggih Dan Kece Cukup Mainkan Dengan Depo 10k Bisa Jadi Besar Empire88 Solusi nya

Naskah Lemah, Subteks Tak Tergarap

Naskah tulisan William Chandra menjadi titik terlemah film ini. Penggunaan kultur Tionghoa sebenarnya memberi angin segar dan potensi tematik yang menarik. Namun potensi tersebut tenggelam oleh penceritaan yang kurang fokus dan eksplorasi subteks yang setengah hati.

Mitos hantu perempuan bergaun merah dikenal luas di berbagai budaya, dengan satu benang merah yang sama: objektifikasi terhadap perempuan. Film ini sebetulnya menyentuh isu tersebut, tetapi gagal menekankannya. Peran para enabler—mereka yang membiarkan atau ikut melanggengkan kekerasan—tidak pernah benar-benar disorot. Barangkali film ini menghindari kesan menggurui, tetapi hasil akhirnya justru terasa tidak tegas dalam menyampaikan pesan.

Kebrutalan yang Tetap Memuaskan

Jika yang dicari hanyalah horor berdarah, Perempuan Bergaun Merah masih mampu memberi kepuasan. Tata rias kelas satu membuat sosok hantu tampil mengerikan dan efektif memancing kengerian. Adegan-adegan pembunuhan dieksekusi dengan brutal, bahkan sesekali kreatif—salah satunya pemanfaatan kasur dalam sebuah adegan kematian yang cukup berkesan.

Deretan pemain turut memperkuat aspek horor. Dewi Pakis mencuri perhatian lewat satu ekspresi seram yang mudah diingat. Faradina Mufti menunjukkan potensi sebagai scream queen dengan ekspresi teror yang meyakinkan. Sementara itu, Tatjana Saphira menutup debut horornya dengan performa mengejutkan di babak ketiga.

Energi yang Terus Menipis

William Chandra sesekali mampu menghadirkan jump scare efektif dengan pendekatan yang bertenaga. Namun konsistensi pengarahannya patut dipertanyakan. Seiring waktu, energi tersebut terasa menurun. Pilihan shot yang canggung kerap melucuti dampak teror, sebuah masalah yang juga muncul di Sekte.

Momen penutup pun menjadi antiklimaks. Alih-alih memberi kepuasan, adegan final justru memancing respons datar: “Sudah?”. Ketika penceritaan stagnan berpadu dengan intensitas yang terus melemah, Perempuan Bergaun Merah akhirnya tampil sebagai horor yang brutal secara visual, tetapi kehilangan daya secara naratif.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *