Insidious: The Red Door, Epilog Horor yang Kehilangan Taring

Insidious: The Red Door, Epilog Horor yang Kehilangan Taring

Insidious: The Red Door, Epilog Horor yang Kehilangan Taring

Insidious: The Red Door hadir dengan niat yang sebenarnya patut diapresiasi.
Sebagai installment kelima dalam franchise horor populer ini, film mencoba menghindari repetisi
dengan kembali menyoroti karakter-karakter dari dua film pertamanya. Alih-alih sekadar mengulang formula lama,
kisahnya diarahkan pada dinamika keluarga disfungsional yang lebih kompleks. Namun sayangnya,
niat segar tersebut terhambat oleh naskah yang dangkal dan teror yang sulit meninggalkan kesan.

Salah satu kecenderungan Hollywood dalam membuat sekuel adalah memecah hubungan karakter yang sebelumnya solid.
Pendekatan ini kembali digunakan oleh Scott Teems, penulis naskah Halloween Kills.
Sembilan tahun setelah peristiwa Insidious: Chapter 2, kondisi Keluarga Lambert berubah drastis.
Josh dan Renai kini bercerai, sementara Dalton tumbuh menjadi remaja yang penuh amarah dan pemberontakan.

Baca Juga:

Setan Alas: Horor Indie Meta yang Mengejek Pakem Lokal

Oleh:

Indocair

The Red Door mengangkat tema repressed memory, yakni mekanisme pertahanan diri manusia
dalam menekan ingatan traumatis. Josh dan Dalton memang berusaha melupakan pengalaman mereka di The Further,
namun kenangan tersebut tak pernah benar-benar hilang. Trauma Dalton perlahan muncul kembali melalui kelas melukis,
membuka potensi menarik tentang seni sebagai medium eksplorasi batin yang sayangnya tidak digarap lebih dalam.

Film ini menghabiskan cukup banyak waktu pada drama keluarga. Sekitar 30 menit awal didedikasikan
untuk membangun kondisi mental para karakter utama. Josh digambarkan berada di titik terendah,
dengan ingatan kabur dan emosi yang tidak stabil. Sosok ayah pelindung perlahan berubah menjadi figur rapuh
yang justru berpotensi menghancurkan keluarganya sendiri.Permainan Terbaru Kini Hadir Dengan Tampilan Yang Sangat Keren
Cukup Deposit Bisa Memainkan Semua Game Hanya Di Indocair Sudah Pasti Cair

Sayangnya, potensi besar dari dinamika keluarga disfungsional ini gagal dikembangkan secara maksimal.
Eksplorasi mengenai luka batin, rasa bersalah Josh, hingga isu trauma lintas generasi hanya disentuh di permukaan.
Akibatnya, tujuan film untuk menutup franchise dengan konklusi emosional terasa tidak tercapai.

Di balik layar, Patrick Wilson tidak hanya kembali memerankan Josh Lambert, tetapi juga menjalani debutnya
sebagai sutradara. Dalam beberapa adegan, terlihat keberanian Wilson memanfaatkan kesunyian untuk membangun atmosfer,
seperti penggunaan jendela sebagai elemen teror. Namun ketika film bergantung pada jumpscare,
keterbatasan jam terbangnya sebagai sutradara terasa jelas.

Banyak jumpscare dalam film ini terasa generik dan dieksekusi secara murahan. Berbeda dengan pendekatan
James Wan yang dulu memopulerkan konsep “hantu agresif”, The Red Door justru menampilkan
penampakan yang sekadar muncul tanpa ancaman berarti. Penyuntingan yang sengaja menghilangkan transisi
demi efek kejut malah membuat film ini tak ubahnya video screamer murah di internet.

Pada akhirnya, Insidious: The Red Door menjadi epilog yang terasa tidak diperlukan.
Meski memiliki niat untuk menghadirkan kesegaran melalui drama keluarga dan pendekatan emosional,
film ini gagal memberikan teror yang berkesan maupun penutup yang memuaskan bagi franchise-nya.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *