Hansan: Rising Dragon – Naval Battle Epik Korea 1592
Prekuel film Korea Selatan dengan jumlah penonton terbanyak sepanjang masa. Satu informasi itu saja sudah cukup membuat semua mata tertuju ke Hansan: Rising Dragon, bagian kedua dari trilogi Admiral Yi Sun-sin, yang rencananya bakal ditutup tahun depan lewat Noryang: Sea of Death. Hingga tulisan ini dibuat, film ini telah mengumpulkan 6,84 juta penonton, jauh di bawah The Admiral: Roaring Currents (17,6 juta), tetapi tetap pencapaian luar biasa.
Latar Perang dan Kapal Kura-Kura
Film ini menyoroti Battle of Hansan Island pada 1592, di mana pasukan Jepang untuk pertama kalinya berhadapan dengan kapal kura-kura milik angkatan laut Joseon. Dijuluki “Bokkaisen” alias “monster laut”, kapal ini mampu menebar ketakutan bagi semua musuhnya.
Wakisaka (Byun Yo-han), Admiral Jepang, yakin bakal mengungguli Yi Sun-sin (Park Hae-il) dan pasukannya. Meski ancaman kapal kura-kura nyata, posisi Jepang berada di atas angin. Hanyang (Seoul) diduduki hanya dalam 15 hari, dan Raja Joseon mempertimbangkan untuk kabur.
Baca Juga : Seoul Vibe: Balap Jalanan dan Heist Era 1988 By PamanEmpire
Dilema Yi Sun-sin
Yi Sun-sin menghadapi dilema besar: apakah menyerang atau bertahan, strategi macam apa yang dipakai, dan apakah kapal kura-kura tetap menjadi senjata utama meski memiliki kelemahan. Park Hae-il tampil kokoh sebagai pahlawan legendaris, meski penokohan kurang menonjol dibandingkan Choi Min-sik di film sebelumnya.
Pelatihan Kapal dan Strategi
Salah satu poin terbaik Hansan adalah memperlihatkan proses latihan kapal-kapal Joseon. Penonton diajak memahami formasi dan strategi yang dirumuskan Yi Sun-sin. Saat taktik tersebut diterapkan di medan perang, terlihat betapa genius strategi sang admiral. Hansan menunjukkan bahwa ide sederhana, diterapkan secara tepat dan terstruktur, dapat menjadi perangkap mematikan.Permainan Yang Sangat Seru Adalah Permainan Yang Berada Di PamanEmpire
Kelemahan Naskah
Hingga sekitar 75 menit pertama, film terasa melelahkan. Naskah menumpuk subplot tanpa penanganan memadai. Romansa mata-mata Lim Jun-young (Ok Taec-yeon) dan Jeong Bo-reum (Kim Hyang-gi) terasa sekadar numpang lewat. Subplot Junsa (Kim Sung-kyu), prajurit Jepang yang membelot, seharusnya memberi ruang eksplorasi lebih, namun tidak maksimal.
Pilihan Sudut Pandang
Film ini membuka cerita dari perspektif Wakisaka, memberikan porsi besar pada pihak Jepang. Hal ini membuat Byun Yo-han mendapat sorotan lebih, namun inkonsistensi naskah menimbulkan kebingungan: apakah kisah dari sudut pandang Jepang atau epos kepahlawanan Joseon?
Klimaks Naval Battle
Puncak film adalah pertempuran laut sepanjang 45 menit tanpa henti. Meski tidak ada gimmick bombastis “perang 12 vs 333” seperti film sebelumnya, Kim Han-min sukses menyajikan sekuen epik. Pemilihan shot dan wide shot sempurna menangkap detail kapal, formasi, dan serangan. Klimaks ini memperlihatkan kematangan sutradara blockbuster, sekaligus menegaskan kapasitasnya dalam menyutradarai sekuen pertempuran yang memukau.

