Dungeons & Dragons: Honor Among Thieves Ternyata Seru

Dungeons & Dragons: Honor Among Thieves Ternyata Seru

Dungeons & Dragons: Honor Among Thieves


Adaptasi fantasi berbiaya besar yang semula diprediksi gagal, namun
justru menjelma sebagai blockbuster menghibur penuh kejutan.

Dibuat berdasarkan permainan tabletop fantasi legendaris dengan biaya
produksi mencapai 150 juta dollar, Dungeons & Dragons: Honor Among Thieves
sempat dipandang pesimistis. Terlebih, lebih dari dua dekade lalu,
waralaba ini pernah melahirkan adaptasi layar lebar berkualitas buruk.
Karena itu, film ini seolah ditakdirkan gagal, baik secara artistik
maupun finansial.

Namun kemudian muncul twist yang tak terduga: filmnya ternyata bagus.
Meski proyeksi pendapatan akhir pekan pembukaannya hanya berada di kisaran
25–30 juta dollar—indikasi potensi flop—daya hiburnya yang kuat membuka
peluang word-of-mouth positif untuk mengubah keadaan.

Baca Juga:

Insidious: The Red Door, Epilog Horor yang Kehilangan Taring

Oleh:

Nagempire

Petualangan Dimulai dari Luka Pribadi

Kisahnya berpusat pada Edgin Darvis (Chris Pine), mantan anggota Harpers
yang membela keadilan tanpa pamrih. Setelah kematian sang istri di tangan
penyihir merah, Edgin beralih profesi menjadi pencuri bersama Holga
(Michelle Rodriguez).Permainan Terbaru Kini Hadir Dengan Tampilan Keren
Dan Kini Dengan Depo 10k Bisa Bermain Game Apa Saja Di Nagaempire
Tempatnya

Sayangnya, kegagalan sebuah misi membuat Edgin dipenjara, dan ketika ia
bebas, keadaan justru semakin buruk. Puterinya, Kira (Chloe Coleman),
kini membencinya, sementara mantan rekan Edgin, Forge (Hugh Grant),
berhasil naik tahta sebagai Lord of Neverwinter berkat bantuan Sofina
(Daisy Head), salah satu penyihir merah paling berbahaya.

RPG Bertemu Heist

Dari sinilah elemen RPG mengambil alih cerita. Demi menjatuhkan Forge
sekaligus merebut kembali puterinya, Edgin membentuk sebuah tim yang
terdiri dari individu dengan kemampuan berbeda-beda. Selain dirinya
dan Holga, ada Simon Aumar (Justice Smith), penyihir bertalenta namun
rendah diri, serta Doric (Sophia Lillis), druid yang mampu bertransformasi
menjadi berbagai hewan.

Menariknya, struktur penokohan ini sangat mirip dengan genre heist.
Keduanya sama-sama menampilkan tim spesialis dengan fungsi jelas.
Naskah yang ditulis Michael Gillio bersama Jonathan Goldstein dan
John Francis Daley dengan cerdik melebur dua genre dari medium berbeda
tersebut menjadi satu tontonan yang segar.

Dunia Fantasi yang Perlahan Menemukan Ritme

Meski demikian, keseruan tidak langsung terasa sejak awal. Paruh pertama
film berjalan kurang mulus karena terlalu bergantung pada eksposisi
untuk memperkenalkan dunia fantasi yang sarat mitologi. Ditambah
inkonsistensi pacing—kadang terlalu lama, lalu mendadak terburu-buru—
pembukaannya terasa kurang spesial.

Namun seiring berjalannya waktu, kelemahan tersebut perlahan teratasi.
Berbekal pengalaman menggarap Game Night (2018), Goldstein dan
Daley kembali membuktikan keahlian mereka dalam meramu hiburan cerdas
dan efektif.

Aksi Kreatif dan Komedi yang Efektif

Walaupun dipersenjatai CGI solid, film ini tidak sepenuhnya bergantung
pada efek visual. Sebaliknya, aksinya lebih menonjolkan ide kreatif.
Salah satu momen terbaik terlihat ketika Doric berganti-ganti wujud
hewan dalam sebuah adegan kejar-kejaran yang dinamis dan inventif.

Memang, long take-nya tidak sepenuhnya natural, namun dibanding banyak
blockbuster yang memilih jalan aman, keberanian Goldstein dan Daley
patut diapresiasi.

Blockbuster dengan “Rasa”

Setengah jam terakhir film ini menghadirkan semua elemen yang dibutuhkan
untuk menyempurnakan statusnya sebagai blockbuster kelas satu: aksi seru,
komedi yang tepat sasaran, kejutan kreatif, dan yang terpenting, emosi.

Reuni Holga dengan mantan suaminya yang diselipi cameo menarik, hingga
penutup yang membahas keikhlasan hati, memberikan kedalaman emosional
yang jarang ditemui dalam adaptasi game.

Pada akhirnya, Dungeons & Dragons: Honor Among Thieves
membuktikan bahwa adaptasi permainan tabletop tidak selalu berakhir
buruk. Ia bukan hanya menghibur, tetapi juga memiliki “rasa” yang
membuatnya layak dikenang.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *