Bob Marley: One Love, Biopik Hangat yang Kurang Spesial

Bob Marley: One Love, Biopik Hangat yang Kurang Spesial

Ditemani lagu-lagu ikonik seperti Exodus, Redemption Song, hingga No Woman, No Cry, pengalaman menonton Bob Marley: One Love cenderung meninggalkan kesan hangat. Perasaan puas mungkin muncul, terutama bagi penonton yang datang untuk menikmati musik dan pesan damai sang legenda reggae. Namun sebagai sebuah biopik, film ini sulit disebut istimewa. Meski berangkat dari gagasan penceritaan yang menarik, seiring berjalannya waktu film justru terasa semakin konvensional dan tidak selalu berhasil menjaga ritme emosionalnya.

Naskah yang ditulis Reinaldo Marcus Green bersama Terence Winter, Frank E. Flowers, dan Zach Baylin sebenarnya memiliki niat menghadirkan pendekatan berbeda. Alih-alih menelusuri perjalanan hidup Bob Marley secara kronologis sejak masa kecil, film ini memilih menyoroti satu fase krusial dalam hidupnya. Pendekatan tersebut berpotensi memberi kedalaman, dengan narasi yang lebih fokus dan tematis.

Baca Juga:

Rumah Dinas Bapak: Horor Komedi Ringan dan Aman

Oleh:

Empire88

Fase yang dipilih adalah akhir 1970-an, ketika Jamaika berada dalam konflik politik yang memecah masyarakat. Di tengah situasi tersebut, Bob Marley, yang diperankan Kingsley Ben-Adir, berencana menggelar konser perdamaian. Namun rencana itu terguncang oleh upaya pembunuhan yang menimpa Marley dan anggota The Wailers. Insiden tersebut juga melukai Rita Marley (Lashana Lynch), yang sempat koma akibat tembakan di kepala.Permainan Terbaru Kini Telah Hadir Dengan Depo 10k Bisa Bermain Di Empire88

Memusatkan cerita pada Bob Marley di puncak kariernya adalah pilihan yang cukup menjanjikan. Sayangnya, Green dan tim tidak sepenuhnya berani mengeksplorasi bentuk narasi ini secara konsisten. Film kerap kembali pada pola biopik konvensional melalui kilas balik masa kecil Marley yang muncul sporadis dan terasa kurang menyatu dengan alur utama.

Pasca penembakan, latar berpindah ke London, tempat Marley mengasingkan diri sembari menyiapkan album Exodus (1977). Di sinilah salah satu kekuatan film muncul. Naskahnya menolak menggambarkan Bob Marley sebagai figur suci tanpa cela. Marley ditampilkan sebagai manusia dengan luka batin, kemarahan, dan keraguan, meski citra publiknya sangat memungkinkan diperlakukan secara idealistik.

Di London, Marley digambarkan mengalami krisis identitas. Kesuksesan album Exodus membuatnya dikelilingi banyak tokoh penting, namun perlahan menjauh dari tujuan awal bermusik. Relasinya dengan Rita pun ditampilkan tidak sempurna, diwarnai pengkhianatan dari kedua belah pihak. Detail ini memberi lapisan manusiawi yang cukup menarik pada sosok Marley.

Dari rangkaian konflik personal tersebut, ditambah diagnosis kanker kulit langka yang dideritanya, film merangkai perjalanan spiritual Marley yang sejalan dengan prinsip rastafari: pencarian kedamaian batin. Musik diposisikan bukan sekadar ekspresi seni, melainkan jalan menuju kedamaian diri dan dunia.

Adegan penciptaan lagu Exodus menjadi salah satu momen terbaik film ini. Proses kreatif yang menyatukan emosi, keresahan, dan spiritualitas terasa hidup. Ketika musik dibawakan di atas panggung, Kingsley Ben-Adir tampil memikat. Geraknya yang liar dan intens menggambarkan Marley seolah tengah menjalani ritual sakral, memperkuat gagasan bahwa musik baginya adalah bentuk ibadah.

Lashana Lynch juga memberi performa emosional kuat sebagai Rita Marley, terutama di luar panggung. Namun tetap saja, sorotan utama ada pada Ben-Adir yang mampu mencuri perhatian setiap kali tampil di hadapan penonton konser dalam film.

Sayangnya, film ini kehilangan kesempatan emas pada bagian akhir. Konser OLPC (One Love Peace Concert), momen bersejarah ketika Bob Marley menyatukan dua rival politik Jamaika, Michael Manley dan Edward Seaga, justru tidak ditampilkan secara utuh. Film berakhir tepat ketika konser akan dimulai. Keputusan ini mungkin dimaksudkan untuk menekankan proses ketimbang hasil, tetapi dalam konteks biopik konvensional, absennya klimaks emosional tersebut terasa mengecewakan.

Pada akhirnya, Bob Marley: One Love adalah biopik yang hangat, penuh musik ikonik dan pesan damai, namun kurang berani melampaui pakem genre-nya sendiri. Film ini menyenangkan untuk dinikmati, terutama bagi penggemar Bob Marley, tetapi meninggalkan kesan bahwa potensi besar yang dimilikinya belum sepenuhnya tergarap.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *