Black Adam: Aksi Spektakuler tapi Antihero Terlalu Aman

Black Adam: Aksi Spektakuler tapi Antihero Terlalu Aman

Black Adam: Aksi Spektakuler tapi Antihero Terlalu Aman

Dwayne “The Rock” Johnson memiliki fisik yang nyaris sempurna untuk memerankan karakter superhero.
Bahkan, tubuhnya terlihat lebih kekar dibandingkan Black Adam versi komik.
Karena ukurannya yang terlalu massif, tim produksi sampai harus memakai CGI untuk “mengecilkan” otot Johnson.
Hal itu terjadi saat Black Adam kehilangan kekuatannya dan kembali menjadi manusia biasa.

Meski demikian, pertanyaan besar pun muncul.
Apakah di luar fisik, Johnson benar-benar pilihan tepat untuk memerankan salah satu antihero paling badass milik DC?

Fisik Meyakinkan, Karakter Kurang Menggigit

Secara visual, Johnson terasa sangat meyakinkan.
Saat Black Adam—atau Teth-Adam—menangkap peluru, membengkokkan besi, dan melumat puluhan musuh, semuanya terlihat masuk akal.
Penonton pun tak punya alasan meragukan kekuatannya.

Namun, masalah muncul ketika film menegaskan Black Adam sebagai dewa yang tak ragu membunuh secara brutal.
Di titik inilah kepercayaan mulai goyah.
Kekejaman yang dijanjikan narasi tak pernah benar-benar terasa di layar.

Baca Juga:


Perempuan Bergaun Merah: Brutal tapi Kehilangan Daya

Oleh:

Rajabotak

Potensi Kelam yang Tak Digali

Black Adam jelas bukan Deadpool yang bersimbah darah.
Bahkan di semesta film DC, ia tampak lebih jinak dibanding The Suicide Squad (2021) arahan James Gunn.
Padahal, premisnya menyimpan potensi besar.

Kisah tentang figur kuno yang bangkit setelah hampir 5.000 tahun seharusnya sarat dendam dan amarah.
Meski sumber kekuatannya mirip Shazam, motivasi Black Adam semestinya jauh lebih kelam.
Sayangnya, naskah terlihat ragu untuk menyelami ambiguitas moral tersebut.

Perjalanan Menjadi Pelindung Kahndaq

Seperti yang bisa ditebak, Black Adam perlahan diarahkan menjadi pelindung.
Ia membela warga Kahndaq yang lama hidup di bawah penindasan kekuatan asing.
Di sinilah sisi heroik mulai ditonjolkan.

Adrianna (Sarah Shahi) dan putranya, Amon (Bodhi Sabongui), berperan sebagai jangkar emosional.
Selain itu, kehadiran Justice Society of America turut membentuk konflik.
Kelompok ini terdiri dari Hawkman, Doctor Fate, Cyclone, dan Atom Smasher.

Antihero yang Terlalu Aman

Masalah utama film ini terletak pada transformasi karakter.
Perubahan Black Adam dari dewa kejam menjadi antihero terasa terlalu aman.
Kekejaman yang seharusnya menjadi identitasnya nyaris tak dieksplorasi.

Hal ini bisa disebabkan banyak faktor.
Mulai dari naskah yang memilih sisi terang, batasan rating PG-13, hingga interpretasi Johnson sendiri.
Akibatnya, Black Adam lebih sering terlihat bingung ketimbang bergejolak secara emosional.

Permainan Terbaru Kini Telah Hadir Dengan Tampilan Keren Dan Kece Cuma Di
Rajabotak

Aksi Bombastis dan Visual Memanjakan Mata

Meski begitu, Black Adam bukanlah blockbuster yang gagal total.
Alurnya bergerak cepat dan efisien.
Film ini terus berpindah dari satu set piece aksi ke set piece berikutnya.

Di kursi sutradara, Jaume Collet-Serra mampu menghadirkan aksi bombastis yang rapi secara visual.
Beberapa adegan, terutama saat Cyclone beraksi, terlihat sangat memanjakan mata.
Setiap anggota JSA pun diberi ruang untuk bersinar.

Musik Epik dan Fan Service yang Solid

Musik gubahan Lorne Balfe memperkuat kesan megah film ini.
Iringannya terasa pas saat mengiringi adegan gerak lambat khas Collet-Serra.
Hal tersebut membuat film terasa seperti proyek besar, bukan produk asal jadi.

Selain itu, penggemar komik kemungkinan besar akan puas.
Desain karakter tampil cukup setia pada materi aslinya.
Film ini juga tak takut terlihat konyol di beberapa momen.

Kesimpulan

Pada akhirnya, semuanya kembali pada ekspektasi penonton.
Jika mencari eksplorasi sisi gelap antihero atau kritik sosial yang tajam, Black Adam bisa terasa mengecewakan.
Namun, jika tujuan utamanya adalah hiburan aksi berskala besar, film ini tetap layak ditonton.

Black Adam memang spektakuler secara visual.
Sayangnya, ia terlalu aman untuk benar-benar dikenang sebagai kisah antihero yang berani.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *