Denzel Washington dan sutradara legendaris Spike Lee bersatu kembali untuk kelima kalinya dalam sebuah karya yang berani: Highest 2 Lowest resensi film, sebuah interpretasi ulang modern dari thriller klasik Akira Kurosawa tahun 1963, High and Low. Berlatar di New York City kontemporer, film ini membawa isu-isu kelas sosial, moralitas, dan kapitalisme ke dalam sorotan, menjadikannya tontonan yang penuh energi—meski terkadang kacau—yang khas “Spike Lee Joint.” Film ini mengisahkan David King (Denzel Washington), seorang mogul musik yang tengah berjuang untuk mendapatkan kembali kepemilikan penuh atas label rekaman yang ia dirikan, Stackin’ Hits Records. Dalam sebuah krisis finansial dan moral, hidupnya terbalik ketika sebuah plot penculikan yang salah sasaran menguji batas-batas kemanusiaan dan kepentingan bisnisnya.
Awalnya, penculik menargetkan Trey (Aubrey Joseph), putra David, menuntut tebusan $17,5 juta dalam bentuk Franc Swiss. Namun, plot cerita berputar tajam ketika terungkap bahwa yang diculik adalah Kyle (Elijah Wright), putra dari sopir dan orang kepercayaan David, Paul Christopher (Jeffrey Wright). Uang yang seharusnya digunakan untuk membeli kembali perusahaannya kini menjadi kunci bagi kehidupan putra temannya. Keputusan David—untuk membayar tebusan dan kehilangan impian bisnisnya atau menyelamatkan anak sopirnya dan menghadapi risiko kehancuran finansial dan sosial—adalah inti dari dilema moral yang ditawarkan film ini.
Kembalinya Duet Washington-Lee dan Isu Moral
Reuni Denzel Washington dan Spike Lee setelah hampir dua dekade sejak Inside Man (2006) adalah daya tarik utama film ini. Washington, dengan karisma alaminya, berperan sebagai David King, seorang pria kaya raya yang memiliki julukan “telinga terbaik dalam bisnis,” namun mendapati dirinya berada dalam konflik batin. Lee menggunakan setting rumah David yang mewah di penthouse Dumbo sebagai latar untuk drama chamber yang tegang, di mana jurang pemisah kelas antara David King, seorang mogul musik, dan Paul Christopher, sopirnya, menjadi fokus awal yang menonjol.
Kurosawa di film aslinya dengan cemerlang mengeksplorasi ketegangan kelas yang terukir di Jepang pascaperang. Sementara itu, Lee memindahkannya ke Manhattan, menukarkan produsen sepatu dengan mogul musik Afrika-Amerika yang dikelilingi oleh karya seni Black excellence. Namun, beberapa kritikus mencatat bahwa eksplorasi isu kelas dalam Highest 2 Lowest terasa lebih didaktik atau tergesa-gesa. Keputusan King untuk membayar tebusan dibuat relatif cepat, yang membuat inti dari dilema moral—yang menjadi jantung High and Low—berkurang dampaknya. Setelah keputusan dibuat, film beralih dari drama psikologis menjadi thriller prosedural.
Perbedaan Mencolok dari Karya Asli Kurosawa
Spike Lee dikenal karena gaya sinematiknya yang unik dan terkadang eksesif, dan Highest 2 Lowest menampilkan semua ciri khasnya: tembakan double dolly yang khas, karakter yang terkadang berbicara langsung ke kamera (breaking the fourth wall), dan kecintaan yang tak terpadamkan pada New York City.
Paruh kedua film, yang menjadi pelacakan penculik (diperankan oleh rapper A$AP Rocky sebagai Yung Felon), berbeda signifikan dari sumber aslinya. Jika Kurosawa memilih alur investigasi polisi yang dingin dan detail, Lee memilih jalur yang lebih personal dan penuh aksi. Denzel Washington bertransformasi dari mogul yang anggun menjadi sosok yang lebih berorientasi pada aksi untuk melacak penculik itu sendiri—sebuah perubahan yang membuat beberapa kritikus merasa karakter Paul sang sopir terpinggirkan.
Salah satu adegan yang paling banyak diperbincangkan adalah konfrontasi antara David King dan Yung Felon, yang berakhir dalam semacam rap battle beradu argumen. Adegan ini, meskipun dianggap berani dan sangat “Spike Lee,” juga dianggap oleh sebagian orang terlalu tidak masuk akal untuk momen krusial yang mengancam nyawa. Namun, tidak dapat dimungkiri, energi yang dibawa oleh kedua aktor—Washington dengan pengalaman aktingnya dan A$AP Rocky dalam debut filmnya—membuat adegan tersebut tetap memukau dan intens.
Estetika dan Tantangan Teknis
Secara visual, sinematografi Matthew Libatique menangkap New York dengan cemerlang, mulai dari pemandangan skyline yang berkilauan dari penthouse David King hingga suasana jalanan yang ramai dan keras di bawah. Lee menyuntikkan narasi visual dengan energi kota yang beragam. Salah satu momen sinematik yang paling kuat adalah urutan kejar-kejaran di dalam kereta subway, di mana Lee menyisipkan gambar-gambar kontras, seperti kerumunan penggemar tim bisbol Yankees yang bersemangat, menambah ambience yang unik pada ketegangan yang meningkat.
Namun, film ini tidak luput dari kritik, terutama terkait aspek teknis dan penulisan. Musik latar (skor) Howard Drossin, yang seharusnya mendukung ketegangan, justru dianggap over-the-top dan terasa tidak pada tempatnya dalam beberapa momen dramatis. Selain itu, akting beberapa pemeran pendukung dinilai kurang meyakinkan, membuat beberapa adegan penting terasa janggal.
Terlepas dari ketidaksempurnaan ini, Highest 2 Lowest resensi film ini harus dilihat sebagai pernyataan artistik Lee tentang warisan, kapitalisme dalam komunitas kulit hitam Amerika, dan apa artinya menjadi ‘Raja’ di dunia modern. Film ini mungkin tidak mencapai ketinggian tematik karya Kurosawa yang agung, tetapi ia berhasil dalam memicu diskusi dan menyajikan sebuah thriller kriminal yang tak pernah terasa membosankan, didorong oleh kolaborasi yang magnetis antara dua ikon perfilman.
Baca juga:
- Review Film 27 Nights: Komedi-Drama Berlatar Perjuangan Otonomi Lansia
- Ulasan Good News 2025 Netflix: Satire Politik yang Menghibur
- Ulasan Film Black Bag 2025: Intrik Mata-Mata, Pernikahan, dan Pengkhianatan
Informasi ini dipersembahkan oleh indocair

