Venom: The Last Dance diniatkan sebagai babak akhir perjalanan Eddie Brock dan sang simbiot, Venom. Namun sebagaimana sering terjadi di Hollywood, klaim “babak akhir” ini terasa meragukan. Setelah tiga film, Sony Pictures tampaknya masih belum menemukan jati diri terbaik untuk karakter “Lethal Protector” ini. Hasilnya, penutup trilogi ini justru terlihat seperti inang yang tengah terjangkit krisis identitas—tidak tahu harus bersikap serius atau konyol.
Kelly Marcel yang kembali menulis naskah sekaligus debut sebagai sutradara pun tampak belum menemukan keseimbangan nada yang tepat. Film ini terus terombang-ambing di antara humor absurd dan drama kelam yang ingin dibangun.
Inkonsistensi Tone Sejak Awal
Kisah dibuka dengan Eddie dan Venom yang sedang buron hingga ke Meksiko. Mereka terlibat pertarungan dengan para kriminal dan, dalam salah satu adegan yang cukup brutal, Venom menggigit kepala para penjahat hingga putus. Sayangnya, penonton tidak pernah mendapatkan kejelasan apakah adegan itu dimaksudkan menjadi sadis realistis atau gore hiperbolis yang konyol.
Masalah tersebut terus berulang sepanjang film. Setiap kali The Last Dance mencoba tampil serius—terlebih dengan kemunculan Knull (Andy Serkis), sang Dewa Kegelapan yang menjadi ancaman utama—auranya memang terasa kelam. Namun sebagaimana dua film sebelumnya, mood serius ini justru membuat film terasa membosankan.
Kedatangan Eddie ke Area 51 untuk menemui Dr. Teddy Payne (Juno Temple) dan Rex Strickland (Chiwetel Ejiofor) bahkan menjadi rangkaian adegan yang terkesan bertele-tele dan menumpulkan minat menonton.
Baca Juga : Mile 22: Hollywood Gagal Maksimalkan Iko Uwais By PausEmpire
Kekuatan Bromance Eddie–Venom
Sisi paling menarik dari Venom: The Last Dance justru tetap sama seperti dua film sebelumnya: bromance Eddie dan Venom. Interaksi mereka, lengkap dengan banter dan dinamika yang lucu, menjadi penyelamat yang membuat film terasa lebih hidup. Ketika nada film menjadi ringan, komedik, dan tidak memaksakan keseriusan, daya hiburnya meningkat drastis.Permainan Seru Hanya Di PausEmpire
Hal ini terutama terlihat dalam petualangan road trip mereka saat kabur dari kejaran pasukan monster kiriman Knull. Pertemuan dengan Martin Moon (Rhys Ifans) dan keluarga hippie-nya pun menyuntikkan energi baru. Adegan Eddie dipaksa menyanyikan Space Oddity ala David Bowie menjadi salah satu momen musikal yang muncul dengan natural dan menghibur.
Humor yang Tidak Selalu Bekerja
Namun tidak semua kekonyolan dalam film ini bisa bekerja dengan baik. Beberapa usaha untuk menambah humor justru terasa generik dan kurang kreatif. Salah satu contohnya terlihat saat Eddie dan Venom kembali bertemu Mrs. Chen (Peggy Lu) di Las Vegas. Momen mereka berdansa sambil diiringi lagu Dancing Queen terasa terlalu klise. Sudah terlalu banyak film menggunakan “adegan menari random” semacam ini untuk menyegarkan suasana, sehingga dampaknya menjadi hambar.
Masalahnya bukan pada niat untuk membuat film lebih fun, tetapi pada eksekusi yang kurang segar dan terlalu sering mengulang formula yang sama.
Krisis Identitas yang Tidak Pernah Tuntas
Jika Marcel dan tim kreatif memahami bahwa film ini lebih menyenangkan saat bersifat santai dan konyol, pertanyaannya: mengapa tidak sekalian mengeksekusi film secara penuh sebagai komedi aksi? Keraguan untuk berkomitmen pada satu identitas membuat The Last Dance berjalan di tengah dua kutub yang saling bertabrakan.
Alhasil, film ini bukan menjadi tontonan superhero serius, dengan narasi kelam dan dunia yang terbangun kuat. Namun juga bukan tontonan komedi “so-bad-it’s-good” yang sengaja dibuat lepas dan urakan. Ia terjebak di tengah-tengah tanpa arah yang jelas.
Klimaks dan Penutup yang Kurang Menggigit
Sutradara memang berhasil menciptakan pertempuran final yang chaotic dan cukup seru. Akan tetapi, kreativitas yang minim membuat potensi eksplorasi beragam simbiot yang muncul terasa terbuang percuma.
Lebih parahnya lagi, ending film yang disajikan bak video klip murahan dengan lagu Memories membuat kesan penutup trilogi ini semakin redup. Sebuah klimaks yang seharusnya epik justru menjadi pengingat bahwa trilogi ini tidak pernah benar-benar menemukan arah dan karakteristik yang ingin dipegang.
Kesimpulan
Venom: The Last Dance akhirnya lebih terasa seperti jembatan yang tidak kokoh daripada penutup trilogi yang megah. Inkonsistensi tone, humor yang kurang kreatif, hingga potensi antagonis besar yang tak tergarap membentuk sebuah film yang tidak mampu menentukan dirinya sendiri.
Meski interaksi Eddie dan Venom masih menyenangkan, itu saja tidak cukup untuk menutupi kekurangan mendasar yang membuat film ini gagal menjadi pamungkas yang epik.

